KOLEKSI TULISAN CAKNUN





Trowulan 27 Rajab 1435H

Setelah sebelumnya dilaksanakan sarasehan “Majapahit adalah masa depan Indonesia” di Pendopo Agung Trowulan, mulai tampak di halaman Pendopo Agung orang-orang dalam jumlah banyak, berseragam yang sama lengkap dengan peci khas Maiyah sedang bersiap-siap, berbaris menyusun formasi sebagai menu utama dari Banawa Sekar. Banawa Sekar sendiri merupakan “hajatan” besar Maiyah yang bertepatan dengan 27 Rajab 1435H/27 Mei 2014, yang juga menjadi puncak rangkaian dari pertemuan Jamaah Maiyah Nusantara yang di Menturo, Jombang pada satu hari sebelum Banawa Sekar diselenggarakan.
Tepat pukul 20.45 WIB, Banawa Sekar diawali penampilan  kesenian sendratari dari komunitas Mojopahitan. Yang langsung disambung oleh Roddad Ishari (Ikatan Seni Hadrah Indonesia) yang secara khusus diminta  untuk Banawa Sekar yang membawakan beberapa nomor sholawatan, dimulai dengan Ibtida’, kemudian berurutan sholawat Bisyahri, Badatlana dan Mahalul Qiyam. Kurang lebih sekitar 1 jam Roddad Ishari menampilkan nomor-nomor sholawat tersebut dengan perpaduan rebana dan kecak tepukan tangan.
Roddad Ishari adalah komunitas Sholawatan yang sudah ada sejak tahun 1950-an tersebar di sekitar daerah Jombang dan Mojokerto. Zainul Arifin salah satu personel dari KiaiKanjeng secara khusus bertugas untuk mengkoordinir ranting-ranting Ishari ini yang berasal dari 42 desa dan 17 kecamatan, dengan jumlah total melibatkan 1.027 orang. Tari Roddad ini bagaikan gelombang lautan yang indah bergerak bersamaan suara tepukan kecak khas Ishari, bagaikan kicau burung yang memanggil Rasul terkasih Muhammad SAW. Tak terbendung lagi, ketika sholawat semakin membuat larut suasana, hujan deras pun turun dikirim oleh Malaikat seakan ikut megantarkan kehadiran Rasulullah SAW bersama dengan jama’ah yang hadir.
Hujan turun cukup deras ketika Roddad Ishari memuncaki penampilan mereka dengan sholawat ‘Indal Qiyam. Cak Nun langsung secara spontan terjun kelautan manusia, bergabung bersama teman-teman Roddad Ishari di depan panggung, ikut merasakan hujan bersama-sama mereka. Zainul melanjutkan kemesraan bersholawat bersama ditengah hujan deras dengan melantunkan Sholawat Burdah dari atas panggung. Kebersamaan Cak Nun dengan jama’ah yang hadir saat itu membawa nuansa isyik dan kehangatan tersendiri yang dirasakan oleh jama’ah, dalam keadaan hujan dan cuaca yang cukup dingin, jama’ah tidak merasakan ‘kedinginan hingga acara berakhir.
“Tidak ada hujan yang lebih berkah dan lebih indah, melebihi hujan yang diturunkan Malaikat langsung ketika para pecinta Rasulullah berdiri mengumandangkan Sholawat ‘Indal Qiyam”, ucap Cak Nun setelah naik kembali keatas panggung.
Cak Nun kemudian mengawali Maiyah Banawa Sekar dengan sebuah pesan kepada masyarakat Jawa Timur, bahwa Jawa Timur adalah daerah yang akan sangat menentukan siapa calon presiden yang akan terpilih pada pilpres 2014 kali ini. Cak Nun mengajak semua jama’ah yang hadir untuk terus memanjatkan do’a kepada Allah, agar Allah ikut serta dalam menentukan Presiden Indonesia pada Pilpres kali ini. Cak Nun berpesan agar jama’ah yang hadir melakukan Sholat Istikhoroh terlebih dahulu sebelum menentukan pilihan, karena pilihan Allah adalah pilihan yang terbaik bagi semua manusia.

3 Macam Pertahanan Rakyat Indonesia

Majapahit memang sebuah bagian dari Indonesia, namun bukan berarti kemudian keberadaan Majapahit adalah sebuah hal yang paling penting saat ini. Cak Nun mengajak jama’ah yang hadir untuk kembali mempelajari Majapahit lebih karena Majapahit memiliki sejarah yang besar, selain itu karena kondisi Indonesia saat ini semakin tidak jelas, Cak Nun mengibaratkan Indonesia saat ini bagaikan pohon mangga yang berbuah jambu. Indonesia menganut sistem pemerintahan yang dimiliki oleh bangsa lain, yang sebenarnya belum bisa dikatakan berhasil di negara asalnya.
Cak Nun menjelaskan bahwa ada 3 jenis pertahanan Rakyat Indonesia. Yang pertama adalah pertahanan tradisi dan kebudayaan. Yang kedua adalah pertahanan Intelektual dan yang ketiga adalah pertahanan Politik dan Militer.
Majapahit dulu pernah mengalami masa kejayaan dimasa kepemimpinan Hayam Wuruk dengan Patih Gadjah Mada. Hayam wuruk memposisikan diri sebagai Kepala Negara dan Gadjah Mada berposisi sebagai Kepala Pemerintahan. Kepala Negara adalah orang yang memutuskan sebuah kebijakan, sedangkan Kepala Pemerintahan adalah orang yang melaksanakan kebijakan yang diputuskan oleh Kepala Negara. Indonesia saat ini tidak memiliki kejelasan yang pasti, siapa yang menjadi Kepala Negara dan siapa yang menjadi Kepala Pemerintahan, karena keduanya tergabung dalam satu lembaga yaitu Presiden.
Komisi Yudisial, Mahkamah Konstitusi dan Komisi Pemberantasan Korupsi adalah beberapa lembaga yang seharusnya berada dibawah naungan Kepala Negara karena mereka yang bertugas mengawasi Pemerintahan. Namun saat ini lembaga tersebut di Indonesia berada di tempat yang salah karena tercampurnya peran Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan dalam satu lembaga, yaitu Presiden.
KiaiKanjeng bersama Mbak Novia Kolopaking kemudian berkolaborasi dengan Cak Nun membawakan sebuah nomor “Bangbang Wetan”. Kemudian Mbak Nia, Mbak Yuli dan Mbak Hijrah bersama Kiai Kanjeng membawakan nomor Sholawat Nabi dengan aransemen khas Mandar.
Cak Nun kemudian mewawancarai Agus Sunyoto terkait hal-hal yang berhubungan dengan Majapahit. Agus Sunyoto bisa dikatakan sebagai “profesor” dari sejarah tentang Majapahit, hal ini berdasarkan atas banyaknya data tentang Majapahit yang dimiliki oleh beliau. Beliau menjelaskan sedikit tentang pasal hukum Majapahit, yaitu Kutara Manawa Dharmasastra yang terdiri dari 272 pasal dan mengatur 19 bidang, bukan hanya tentang ekonomi, namun moral dan etika juga diatur dalam pasal hukum ini. Sedangkan Indonesia saat ini masih menganut undang-undang yang dibikin oleh Belanda.
Agus Sunyoto menjelaskan bahwa tidak ada kata “kalah” dalam bahasa Kawi. Kata-kata ngalah itu bukan berasal dari kata kalah, kata depan “nga” itu berarti menuju, ngalas berarti menuju alas (hutan). Kalah itu ada dalam kosakata bahasa melayu. Kata ngalah itu sebenarnya adalah Ngallah yang berarti menuju Allah. Penjelasan tentang Majapahit sebelumnya sudah pernah dibahas oleh Agus Sunyoto dalam Maiyah Pati “Suluk Semalam” beberapa bulan yang lalu.
Cak Nun menjelaskan maksud dari Banawa Sekar. Banawa adalah representasi dari laut, yaitu kapal. Sedangkan Sekar adalah representasi dari darat, yaitu kembang (bunga). Dengan Banawa Sekar, maka kita membangun Indonesia dengan membangun infrastruktur darat dan laut sekaligus. Hal ini berdasarkan keadaan geografis Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau yang dipisahkan oleh laut dan kemudian memungkinkan pemanfaatan banyaknya sumber daya alam yang mampu dihasilkan oleh Indonesia seandainya pembangunan infrastruktur darat dan laut ini dilakukan dengan benar. Banawa Sekar ini adalah konsep yang dimiliki oleh Majapahit.
Agus Sunyoto melanjutkan bercerita sedikit tentang kekuatan angkatan laut kerajaan Majapahit yang pada zamannya menjadi angkatan laut yang disegani oleh bangsa lain. Bangsa Majapahit juga sudah memiliki kalender yang sudah dimunculkan sekitar 1 abad sebelum kalender Masehi muncul.
KiaiKanjeng bersama Cak Nun membawakan nomor “Hasbunallah” untuk mengiringi teman-teman Roddad Ishari untuk beristirahat. Sabrang yang turut hadir diminta untuk mendampingi Cak Nun untuk membawakan sebuah nomor Letto yang berjudul “Sebelum Cahaya” diiringi oleh KiaiKanjeng.
“Perang menurut saya yang perlu dilakukan sekarang adalah perang terhadap ketidaktahuanmu bahwa dirimu masih dalam penjara. Dan penjaranya adalah ukuran-ukuran dalam fikiranmu yang bukan berasal dari dirimu sendiri”, pemaparan Sabrang.
KiaiKanjeng kemudian membawakan nomor Sholawat Nabi dengan aransemen baru yang juga menampilkan vokal Pak Nevi Budianto.
Syeikh Nursamad Kamba yang turut hadir dalam Banawa Sekar ini memaparkan pesan dari guru beliau di Mesir dahulu, bahwa ada 2 indikator yang bisa mengukur apakah suatu bangsa itu dalam keadaan bahaya atau tidak, yaitu: tradisi Sholawatan dan dikumandangkannya Adzan. Apabila 2 indikator tersebut masih ditemui dalam sebuah bangsa, maka keadaan bangsa itu masih dalam keadaan baik-baik saja. Karena didalam sholawat itu sendiri memiliki fungsi keselamatan kepada siapapun saja yang mengucapkannya. Sehingga kemudian bisa dikatakan Indonesia masih baik-baik saja karena tradisi sholawatan masih terjaga di seluruh penjuru tanah air.
Dalam sebuah hadits sahih Rasulullah SAW bersabda: man sholla ‘alaiyya marroh shollallahu ‘alaihi ‘asroh. Barang siapa bersholawat kepadaku (Rasulullah) sebanyak satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali. Jika sholawat dari kita kepada Nabi Muhammad SAW adalah do’a, maka balasan sholawat dari Allah kepada kita merupakan keselamatan. Namun Syeikh Nursamad Kamba menekankan agar kita tidak usah melakukan perhitungan dengan Allah SWT terkait balasan sholawat yang kita ucapkan setiap harinya.
Tradisi terbangan dan sholawatanyang masih dilakukan teman-teman Roddad Ishari ini menggambarkan betapa dahsyatnya dan hebatnya para pendahulu kita yang mampu menciptakan gagasan suatu tradisi, yaitu terbangan dan sholawatan ini. Suatu tradisi sudah pasti mengalami akulturasi dan internalisasi dalam proses kemunculannya, dengan bertahannya suatu tradisi berarti menggambarkan bahwa tradisi tersebut memiliki fondasi yang kuat yang sudah dibangun oleh para pendahulunya.

Konsep “Ihdinasshiroto-l-mustaqiim”

Cak Nun menjelaskan tentang konsep Makkiyah dan Madaniyah. Dalam Al Qur’an kita mengenal terminologi Ayat Makkiyah dab Madaniyah. Ayat-ayat Makkiyah adalah ayat-ayat yang mengajarkan kepada kita tentang aqidah, tauhid, fiqh dsb yang merupakan dasar-dasar keimanan dalam Islam. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah adalah ayat-ayat yang menjelaskan hubungan sesama manusia, perdagangan, silaturrahmi dsb yang merupakan pelengkap kehidupan manusia di dunia. Saat ini, seharusnya kita sudah berkonsentrasi pada aplikasi ayat-ayat Madaniyah namun kita disibukkan untuk tetap bertengkar dalam urusan Makkiyah. Sehingga saat ini kita tertinggal jauh dalam aplikasi Madaniyah dalam kehidupan kita sekarang ini karena kita masih banyak berkutat dalam permasalahan yang berhubungan dengan Makkiyah.
Dalam Islam kita selalu mengucapkan kalimat Ihdinasshiroto-l-mustaqiim pada setiap sholat kita. Hal ini bukan berarti kita berada di jalan yang tidak benar. Kiai Muzammil yang juga hadir dalam acara ini menjelaskan ayat ini menjelaskan bahwa dalam Islam tidak hanya mengajarkan tentang kebenaran, namun juga kebaikan.  “Ayat ini yang juga bagian dari do’a kita setiap harinya bukan kemudian menyatakan bahwa kita berada di jalan yang salah, namun lebih karena agar manusia tidak merasa selalu berada di jalan yang benar, melainkan agar kita selalu ingat bahwa kita adalah manusia yang tidak sempurna yang setiap hari bisa saja berlaku khilaf”. Jadi orang benar, tetapi merasa menjadi orang baik, itu tidak benar.
Cak Nun menambahkan, dalam bulan puasa kita menjalani ibadah puasa selama 30 hari, setiap hari kita menjalani puasa, berganti hari kita tetap berpuasa, disinilah makna agar kita tetap istiqomah dalam berpuasa. Kita mengucapkan ihdinasshiroto-l-mustaqiim agar kita tidak lengah, agar kita terus selalu berada di jalan yang lurus (benar). Sehingga kalimatihdinasshiroto-l-mustaqiim adalah cara kita agar mampu istiqomah berpuasa selama satu bulan lamanya. Cak Nun menambahkan, bahwa ayat ini adalah salah satu ayat kemesraan Allah dengan hambanya.
KiaiKanjeng kemudian membawakan nomor medley “Sholawat Burdah dan LOVE” yang merupakan duet kolaborasi Zainul dengan Mbak Novia Kolopaking. Kemudian nomor “Ya Nabii Salam Alaika” yang dinyanyikan oleh Yuli dan Nia dilanjutkan dengan “Everything I do” yang diaransemen ulang dengan irama khas jawa oleh KiaiKanjeng dengan duet vokal Imam Fatawi dengan Mbak Novia Kolopaking.
Sabrang kembali diminta oleh Cak Nun untuk menjelaskan tangguhnya bangsa Sparta. Bangsa yang terkenal dengan ideologi militer. Menerapkan standar yang tinggi dalam kualitas fisik, jika lahir dalam keadaan cacat, maka segera dibunuh ketika baru lahir. Sejak kecil mereka dilepas  di hutan, jika ia berhasil kembali dari hutan maka ia dinyatakan tangguh. Proses ini kemudian melahirkan prajurit-prajurit yang tidak hanya kuat secara fisik, namun juga tangguh secara mental.
Cak Nun melengkapi, “apabila anda melakukan pertandingan tinju, kuncinya satu; jangan sampai anda terseret kedalam permainan lawan anda, jika anda terbawa dalam permainan lawan, maka anda akan kalah.” itulah yang dilakukan oleh bangsa Sparta dalam sebuah peperangan. Cak Nun menambahkan. “Kita harus menciptakan tata nilai sendiri yang berbeda dengan musuh kita.”
Cak Nun memberikan simulasi, bahwa perang badar dimana 300 pasukan Rasulullah berhasil mengalahkan 3000 pasukan gabungan orang-orang kafir. Pasukan Rasulullah menciptakan ruang perangnya sendiri di lembah Badar dan memaksa pasukan lawan untuk masuk kedalam ruang yang sudah disusun sedemikian rupa oleh Rasulullah SAW saat itu. Sehingga, pasukan kafir mengalami kekalahan karena mereka terjebak dalam skema peperangan yang diatur oleh lawan mereka.
Begitu juga dalam politik di Indonesia, Cak Nun melakukan hal yang sama. Bahwa Cak Nun memilih untuk tidak terbawa arus yang ada di peta pertarungan politik Indonesia saat ini. Bukan berarti kemudian kita menghindar dari Indonesia, namun kita membikin area pertempuran sendiri dan memaksa lawan kita untuk masuk dalam area pertempuran yang kita bangun. Terkait PILPRES, Cak Nun menggambarkan bahwa ternyata kita tidak memilih sendiri calon presiden, tetapi kita memilih calon yang sudah dipilihkan oleh partai. Ibaratnya makanan dalam sebuah pasar, kita hanya disajikan 2 jenis makanan dari ribuan jenis makanan yang tersedia didalam pasar tersebut. Kita ditutup peluangnya untuk memilih makanan yang lain, karena setiap kita datang ke sebuah warung, hanya 2 jenis makanan itu saja yang ditawarkan kepada kita.
Cak Nun berpesan kepada Jama’ah Maiyah agar tidak berangan-angan untuk mengalahkan siapapun. Cak Nun kembali bercerita tentang Garuda, bahwa pada usia ke-40 Garuda akan terbang menuju lembah yang tinggi, disana ia mematuk-matuk paruhnya ke batu sampai lepas, dan juga mencakar-cakarkan kukunya ke batu agar terlepas dari kakinya. Jika ia berhasil melepaskan paruh dan kukunya, kemudian ia berhasil bertahan hidup maka akan lahir paruh dan kuku baru yang lebih kuat dari sebelumnya.
Mbak Novia Kolopaking kemudian mengajak jama’ah yang hadir untuk merenung sejenak tentang Indonesia dengan membawakan lagu “Sepinya Hati Garuda” diiringi KiaiKanjeng. Dilanjutkan dengan nomor Sholawat Nariyah.
“Setelah ini jangan menomorsatukan keinginanmu apa, tapi yang nomor satu adalah ingat Allah dan memohon kepada Allah untuk yang terbaik bagimu dan untuk bangsa ini,” pesan Cak Nun kepada jama’ah sebelum menutup Banawa Sekar dengan Sholawat ‘Indal Qiyam.
Banawa Sekar kemudian dipuncaki do’a bersama yang diimpin oleh Syeikh Nursamad Kamba. [Red KC/Fahmi Agustian]
Sumber : caknun.com



Menebus Nusantara

Tepat pukul 20.00 Wib Kenduri cinta edisi Mei dibuka dengan pembacaan surat yaasin kemudian dilanjutkan dengan membaca juz 17. Jama’ah yang sudah hadir di pelataran parkir Taman Ismail Marzuki mulai merapat ke dekat panggung, sebagian ada yang naik ke panggung untuk ikut membaca Al Qur’an. Acara kemudian dilanjutkan dengan shalawatan yang dipimpin oleh Mas Sholeh dan beberapa teman-teman penggiat Kenduri Cinta.

Mukaddimah Kenduri Cinta

Forum Kenduri Cinta kali ini mengangkat tema “Menebus Nusantara”. Salah satu penggiat Kenduri Cinta, Mas Adi kemudian sedikit menjelaskan kenapa Kenduri Cinta mengambil tema ini.
Nusantara ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang memiliki kekayaan yang luar biasa, dengan sejarah yang sangat besar dan selalu kita banggakan, ternyata saat ini justru seakan kita tidak memiliki apa yang ada di Nusantara ini. Nusantara yang kita maksud secara geografis saat ini adalah Indonesia.

Kenduri Cinta Mei 2014
Kenduri Cinta Mei 2014

Apakah kita benar-benar memiliki apa yang ada pada Nusantara saat ini? Realitanya hampir semua aset bangsa ini tidak sepenuhnya menjadi milik rakyat Indonesia. Jika kita menggunakan terminologi gadai, maka kita akan mendapati bahwa Nusantara saat ini yang seharusnya menjadi milik kita, saat ini ternyata penguasaan Nusantara justru bukanlah pemerintah Indonesia saat ini. Hampir semua sumber daya alam Nusantara saat ini berada ditangan fihak asing yang mengelolanya. Sehingga kita merasakan bahwa Nusantara saat ini sedang digadaikan, dan sudah saatnya kita sebagai pemilik sah Nusantara untuk menebus Nusantara yang tergadaikan ini. Entah siapa yang menggadaikan, tetapi kita memiliki keharusan untuk menebusnya. Bagaimana caranya, itulah yang akan dicoba untuk didiskusikan pada Forum Kenduri Cinta kali ini.
Mas Andrean yang juga merupakan salah satu penggiat Kenduri Cinta kemudian mengajak kembali kepada jama’ah untuk melihat sedikit sejarah Indonesia ketika zaman penjajahan Belanda, dimana ketika itu orang-orang pendatang menjadi penguasa, sedangkan orang pribumi asli menjadi kasta terendah, yaitu menjadi kacung.
Jika kita melihat keadaan saat ini, ternyata tidak jauh berbeda. Mas Andre mencontohkan sedikit dalam kehidupan dunia kerja di Indonesia. Para Ekspatriat di Indonesia memiliki penghasilan yang jauh berlipat-lipat daripada penduduk asli Indonesia. Seakan-akan sudah menjadi sebuah aturan baku bahwa orang pribumi asli hanya menjadi Office Boy atau Satpam di perusahaan-perusahaan ternama di Indonesia saat ini. Paling tinggi biasanya orang pribumi hanya menjadi staff di perusahaan asing yang berdiri di Indonesia saat ini. Padahal, perusahaan tersebut mengelola hasil bumi yang ada di Indonesia.
Ternyata ada korelasi yang terjadi antara zaman sekarang dengan zaman penjajahan, dimana orang pribumi hanya dijadikan kacung. Mahasiswa saat ini terus didoktrin agar segera lulus kuliah, kemudian ditekan untuk meraih IPK yang tinggi, kemudian dituntut untuk mencari pekerjaan. Ketika melamar di perusahaan asing yang ada di Indonesia, hanya mampu berkarier maksimal pada jabatan staff, bukan direksi.
Mas Ibrahim yang pada Musleng awal bulan kemarin terpilih menjadi Ketua Forum Komunitas Kenduri Cinta menjabarkan sedikit tentang kondisi Organisasi Komunitas Kenduri Cinta dan mengajak jama’ah untuk ikut bergabung dalam segala aktivitas Kenduri Cinta. Mas Ibrahim juga mengundang jama’ah untuk ikut berpartisipasi dalam beberapa kegiatan rutin selain forum bulanan Kenduri Cinta, diantaranya adalah forum reboan. Selain itu, Mas Ibrahim juga mengajak jama’ah untuk ikut aktif dalam kegiatan literasi, jama’ah yang memiliki kemampuan untuk menulis agar ikut meramaikan website Kenduri Cinta dengan essay, artikel atau opini untuk kemudian dikirim ke redaksi Kenduri Cinta.
Sebelum memasuki diskusi sesi kedua, Mas Parman membacakan puisi yang berjudul “Iman yang titik-titik”.

Diskusi Sesi Kedua

Diskusi sesi kedua kemudian dimoderatori oleh Bang Mathar dengan pembicara Ust. Noorshofa, Mas Rusdi dan Mas Andre.
Mas Rusdi membuka diskusi sesi kedua dengan mengajak jama’ah Kenduri Cinta untuk tidak terlalu risau dengan situasi politik Indonesia. Menurut Mas Rusdi, apabila kita benar-benar ingin Menebus Nusantara, salah satu yang kita lakukan adalah dengan mengganti kata Indonesia dengan Nusantara. Tema-tema seperti ini sudah sering dibahas di Kenduri Cinta sejak beberapa tahun yang lalu.
Mental rakyat Indonesia sudah sangat teruji mentalnya, jika kita mau jujur, rakyat sebenarnya sudah tidak perduli dengan pemilihan presiden, siapapun presiden yang akan terpilih nantinya tidak ada tujuan lain selain giliran merampok. Mas Rusdi yang juga merupakan salah satu saksi sejarah peristiwa Reformasi 98 bersama Cak Nun saat itu pun menyadari hal ini, bahwa pergantian rezim pemerintahan setelah Orde Baru ternyata hanya melahirkan “Soeharto” yang baru dan jumlahnya lebih banyak, dengab tujuan yang sama, yaitu giliran merampok aset negara. Cak Nun sendiri sudah jauh-jauh hari menanamkan kepada Jama’ah Maiyah untuk tidak terlalu risau dengan politik Indonesia, karena yang terjadi saat ini adalah politik yang memfasilitasi untuk giliran merampok.
Mas Andre kemudian menjelaskan tentang sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara. Nusantara pertama kali disebut berdasarkan literasi sejarah yang ada ditulis di Kitab Negara Kertagama. Ketika Patih Gadjah Mada mengikrarkan Sumpah Amukti Palapa. Padahal, pada zaman Singosari sudah pernah muncul juga istilah Nusantara ini sendiri. Kemampuan Singosari dalam penguatan-penguatan daerah karena perubahan dari kekaisaran China yang pada saat itu sangat agresif, muncullah istilah Nusantara.
Menurut Mas Andre, ada 3 poin utama untuk menjadi kunci atau rumusan utama bagi seorang pemimpin di negeri ini untuk merubah Nusantara, yaitu Ketauhidan, Theosofi dan Keteladanan.
Jika kita melihat struktur kerajaan Majapahit, pertama yang harus dilihat adalah Negara Gung yang letaknya di Trowulan yang dikelilingi oleh beberapa negara bagian yang dikuasai oleh saudara-saudara Raja yang berkuasa saat itu. Struktur yang lebih luas, diluar Negara Gung ada Negara-negara yang mengelilingi Majapahit, yaitu Lampung, Dhamasraya, Palembang, Madura dan Bali. Kemudian yang lebih luas lagi adalah yang disebut sebagai Nusantara yang meliputi wilayah yang lebih luas lagi seperti Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan kerajaan-kerajaan yang berada di semenanjung Melayu. Mitrakasetata adalah konstruksi struktur yang lebih luas lagi dari Nusantara. Yang termasuk dalam Mitrakasetata ini seperti kerjaan-kerajaan yang terdapat di Thailand, Myanmanr dan Kamboja.
Ada hal yang menarik dalam konteks Nusantara, yaitu tentang bentuk sebuah Negara. Pada zaman kerajaan Majapahit dulu setiap negara melakukan 3 konsolidasi, yaitu Konsolidasi Wilayah, Konsolidasi Politik dan Konsolidasi Spiritual.
Dalam Negara Majapahit, desa adalah sebuah wilayah yang berada dibawah kekuasaan Tumenggung. Ada 3 warna Desa saat itu, yaitu Desa yang berbasis Pertanian dinamakan Wanua dengan seorang pemimpin yang biasa disebut Petinggi (petani). Desa kedua adalah Awuku yang dikepalai oleh Lurah atau Demang yang berbasis Politik, Prajurit atau Militer.  Yang ketiga adalah Desa yang berbasis Spiritual dengan pemimpin yang disebut sebagai Rama. Konstruksi 3 desa ini adalah yang disebut sebagai Tri Pilar. Apabila kemudian kita benar-benar ingin Menebus Nusantara, maka tri pilar inilah yang seharusnya menurut Mas Andre untuk kita gali lebih dalam.
Menurut Mas Andre, apabila kita ingin membicarakan Nusantara, maka kita sebenarnya adalah membicarakan Desa seperti zaman Majapahit itu sendiri. Ada 3 konstruksi dalam Desa, yaitu Geososio Politik, Geososio Ekonomi dan Geososio Budaya. Hal ini yang harus diserasikan untuk supaya memberikan suatu warna dalam Nusantara.
Pada faktanya saat ini desa dan kota hanya fasilitas untuk menguasai struktural. Perancangan Undang-undang Desa yang dibahas hanya urusan material saja, nantinya kita akan melihat peristiwa-peristiwa perebutan wilayah di pedesaan.
Kenduri Cinta kali ini juga dihadiri oleh DR. Aziz Khafia, MSI mantan Wasekjen Bamus Betawi yang terpilih menjadi anggota DPD pada pemilihan legislatif 9 April yang lalu. Beliau bercerita ketika masa kuliah dulu pernah belajar mata kuliah Wawasan Nusantara. Beliau mengakui bahwa setelah bergabung dengan Maiyah Kenduri Cinta banyak hal yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata di masyarakat. Menurut DR. Aziz, apabila kita ingin merubah Nusantara, yang perlu kita lakukan pertama kali adalah merubah diri kita sendiri, baru kemudian kita melakukan langkah yang kita sebut sebagai Menebus Nusantara.
Ustadz Noorshofa Thohir kemudian memuncaki diskusi sesi kedua ini dengan pembahasan mengenai Isra’ dan Mi’raj. Didalam Al Qur’an tidak ada kata mi’raj, hal ini dikarenakan peristiwa Mi’raj adalah sebuah peristiwa yang tidak bisa dijelaskan dengan akal fikiran kita, sampai kapanpun manusia tidak akan mampu menembus dimensi Mi’raj ini sendiri seperti apa. Oleh karena itu, untuk Menebus Nusantara ini kitapun rasanya sulit untuk melaksanakannya. Karena kuncinya itu tadi bukan hanya Isra’ yang bersifat vertikal, namun juga harus Mi’raj yang bersifat Horizontal.
Ustadz Noorshofa kemudian bercerita tentang sebuah peristiwa dimana terdapat 3 orang yang suatu hari terjebak didalam sebuah gua yang tertutup oleh sebuah batu yang sangat besar. Ada sebuah rumusan bahwa apabila do’a kita ingin diijabahi oleh Allah maka berdo’alah dengan kekuatan amal baik yang pernah kita perbuat.
3 orang tersebut kemudian berdo’a. Orang pertama memanjatkan do’a, “Ya Allah, saya dahulu pernah mencintai anak paman saya kemudian saya berniat melamarnya, ternyata lamaran saya ditolak. Pada suatu hari, saya menjadi orang yang dimintai oleh masyarakat sekitar karena pada saat itu desa saya dilanda kekeringan yang berkepanjangan, suatu ketika perempuan yang menolak lamaranku itu datang meminta bantuan kepadaku, pada saat itu aku masih menaruh dendam kepadanya sehingga kemudian dengan sombong aku memberikan syarat sebelum aku memberinya bantuan kepadany, aku mengajaknya untuk berzina. Namun sebelum kami melakukannya, ia mengingatkan bahwa meskipun tidak ada orang yang tahu perbuatan tersebut, Engkau pasti tahu ya Allah. Maka kemudian aku mengurungkan niatku untuk berzina dengannya dan aku memberikan semua harta benda yang aku miliki saat itu kepada perempuan itu sebagai balasan atas kebaikannya mengingatkanku agar tidak melakukan perbuatan zina saat itu. Aku merasa bahwa itulah kebaikan yang pernah aku perbuat, maka aku mohon ya Allah, singkirkanlah batu besar yang menutupi gua ini ya Allah”.
Orang kedua kemudian memanjatkan do’a, “Ya Allah, aku selalu mengutamakan Ibuku sebelum anak dan istriku. Setiap kali aku mendapat rizqi dariMu ya Allah, aku tidak memberikan kepada anak dan istriku sebelum Ibuku menikmatinya terlebih dahulu. Aku merasa bahwa inilah amal terbaik yang pernah aku lakukan selama aku hidup ya Allah”.
Orang ketiga kemudian mengucapkan doa, “Ya Allah, aku dahulu memiliki pegawai yang banyak, setiap minggu aku bayarkan upah mereka hingga pada suatu hari ada satu pegawai yang belum mengambil upahnya, aku tunggu berhari-hari sampai bertahun-tahun akhirnya upah pegawai tersebut aku belikan kambing dan unta hingga beranak-pinak, ketika ia datang menagih upahnya aku berikan semua hewan ternak hasil pembelian dari upahnya itu ya Allah. Meskipun ia mengambil semua hewan tersebut dan tidak menyisakan untukku, tapi aku Ridhlo ya Allah. Maka apabila itu dihitung sebagai amal baikku, singkirkanlah batu besar ini ya Allah, agar kami dapat keluar dari gua ini”.
Ketiga orang tersebut akhirnya mampu menyingkirkan batu besar yang menutupi gua tersebut tadi. “Dari cerita ini kita dapat mengambil hikmah bahwa disaat kita mampu menolak perbuatan maksiat yang mampu kita lakukan meskipun orang lain tudak tahu, itu merupakan kebajikan yang luar biasa. Begitu juga berbakti kepada orang tua dan perbuatan amanah merupakan kebajikan yang luar biasa. 3 kebajikan ini ternyata mampu membantu do’a manusia agar diijabah oleh Allah swt. Maka, mari kita gunakan kekuatan kebajikan yang pernah kita perbuat agar Allah membantu kita untuk Menebus Nusantara”, Ust. Noorshofa memungkasi penjelasannya.

Diskusi Sesi Ketiga

Sekitar pukul 23.30, jama’ah yang hadir semakin ramai, suasana Kenduri Cinta semakin hangat. Cak Nun kemudian naik ke panggung bersama Mas Sabrang dan Mas Agung untuk memulai diksusi sesi ketiga.
“Kalau sesuatu terjadi dalam hidup anda, baik itu membahagiakan atau memyedihkan bisa dinilai bagaimana sikap Allah terhadap kejadian itu. Yang pertama adalah Allah cuek (acuh) dan dibiarkan, yang kedua adalah Allah tidak peduli dengan kejadian tersebut. Yang ketiga adalah Allah mengizinkan, yang keempat adalah apa yang anda alami, apa yang anda lakukan setiap hari itu sama persis dengan apa yang Allah perintahkan”, Cak Nun mengawali diskusi sesi ketiga.
Ustadz Nursamad Kamba bulan lalu pernah mengingatkan bahwa untuk mendapatkan ridhlo Allah  itu tidaklah sulit, justru ridhlo kita kepada Allah yang terkadang lebih sulit kita berikan. Kita lebih sering mengeluh atas apa yang Allah gariskan kepada kita. Kita lebih sering berekspektasi tinggi, ketika harapan yang tinggi itu tidak tercapai, yang kita rasakan adalah kekecewaan dengan kemudian kita mengungkapkan kekecewaan itu dengan kemarahan kepada Allah, menganggap bahwa hidup ini tidak adil. Begitulah manusia.
Cak Nun kemudian mengajak jama’ah untuk mundur 1-2 langkah untuk belajar bertanya, karena saat ini kebanyakan manusia ternyata dalam bertanya saja masih banyak kesalahan.
“Kalau ternyata nanti anda mengalami suatu persitiwa setelah pilpres nanti yaitu peristiwa yang tidak anda setujui dan tingkat ketidak setujuan anda itu sangat mendalam ke hati anda, maka pada akhirnya anda tidak akan ridhlo. Jadi anda sekarang harus mempersiapkan diri dan hati anda untuk ridhlo kepada apa yang anda sangat tidak setuju”, lanjut Cak Nun.
Cak Nun kemudian memberikan permisalan Ridhlo yang hubungannya dengan pengetahuan, Cak Nun kemudian mengumpamakannya dengan terminologi roti dan tai.
“Lebih gampang mana ridhlo berilmu dengan ridhlo tanpa ilmu?”, lanjut Cak Nun.
“Saya ingin mengatakan kepada anda, tolong dijaga ketidaktahuan anda kepada Indonesia supaya tidak sukar meridhloi apa yang akan terjadi”.
“Hanya orang bodoh yang terlalu tidak mengetahui apa-apa yang meletakkan kepemimpinan di Indonesia ini sebagai hal yang wajib”, Cak Nun melanjutkan setelah menanyakan prosentase primer-sekunder calon presiden yang ada saat ini dalam kehidupan.
Cak Nun kemudian mangajak jama’ah untuk menggunakan terminologi hukum Islam dalam menyikapi pemilihan presiden yang akan dihadapi dalam beberapa bulan kedepan. Apakah itu Wajib, Sunnah, Makruh, Mubah, Halal atau Haram. Setiap jama’ah diminta oleh Cak Nun untuk menentukan dimana posisi pilpres dalam kehidupan masing-masing dengan terminologi hukum dalam Islam tersebut.
“Anda akan menjadi kader yang dari Indonesia yang sejati yang sekarang sedang membuang sampah”, lanjut Cak Nun.
“Jadi sekarang anda jangan percaya kepada penilaian orang terhadap seseorang, karena orang melihat apa saja sekarang berdasarkan kepentingan atau kedengkian, jadi setiap orang agar belajar jernih atas dirinya masing-masing”, lanjut Cak Nun.
“Ada calon ini calon itu yang saya terima di kadipiro, ada yang saya tolak ada yang saya hindari, ada yang Tuhan menghindarkannya, ada yang Tuhan memaksa saya untuk menemuinya. Bagi saya semua itu parameter, dan yang tidak datang ke saya juga merupakan parameter. Karena orang yang datang saya lihat niatnya, saya melihat niatnya dari gelombang yang saya tangkap sehari sebelumnya, sehingga saya tidak perlu ketemu siapapun untuk menangkap opsi-opsi yang sedang kita alami sebagai bangsa Indonesia dengan nasib yang akan kita rasakan bersama pada beberapa bulan yang akan datang”, Cak Nun melanjutkan.
“Pada saat yang sama juga jangan terlalu tenang terhadap gunung-gunung. Jangan menganggap tidak apa-apa dan jangan hanya berpedoman pada gunung berapi”, lanjut Cak Nun.
Cak Nun kemudian memberikan contoh cara pandang dengan terminologi mudzakkar dan muannats. Mudzakkar adalah maskulin, dan muannats adalah feminim. Didalam diri setiap laki-laki maupun perempuan terdapat keseimbangan antara maskulin dan feminim. Secara fisik, sangat jelas seseorang itu laki-laki atau perempuan, namun secara psikologis dia memiliki keseimbangan sifat maskulin dan feminisnya.
Sifat maskulin adalah segala sesuatu yang sifatnya menanamkan, menentukan atau mencetuskan kehidupan. Sedangakan feminim adalah sesuatu yang sifatnya ditanami dan memelihara apa yang sudah ditanami pda dirinya. Contoh yang paling nyata dan mudah adalah dalam kehidupan suami istri.
Sifat maskulin memiliki karakter yang keras dan padat, sedangkan feminim memiliki sifat mengalah, fleksibel, luwes, legowo dsb.
Jika kemudian kita menarik garis lurus, Jakarta adalah Ibu Kota bukan bapak kota. Hal ini dikarenakan Ibu merupakan konsep tentang pusat peradaban. Bahkan Indonesia kita sering menyebutnya sebagai Ibu Pertiwi.
Allah sendiri menempatkan dirinya pada konsep maskulinitas, namun bukan berarti bahwa Allah memilik gender. Dari sekian sifat Allah banyak kita temui sifat maskulin seperti Aziizun, Qowiyyun, Dzul Quwwatin, Qoohirun dsb. Tetapi ada juga sifat yang feminim seperti Ro’uuf, Rahman, Rohiim, Lathiif dsb.
Allah menampilkan diriNya kepada manusia ternyata justru lebih feminim. Satu contoh yang sering kita ucapkan setiap hari adalah kalimat basmalah, “Bismillahirrohmaanirrohiim”.
Terminologi mudzakkar dan muannats ini jika digunakan dalam situasi politik di Indonesia maka Indonesia ini harus muannats (feminim), karena sudah ada mudzakkar global seperti amerika, israel, singapura, sekutu, imf dsb. Yang akan direstui menjadi Presiden adalah yang paling muannats.
Terminologi ini juga bisa digunakan untuk menerka peta koalisi partai politik menjelang pemilihan presiden berdasarkan suara partai yang didapatkan dari hasil pemilihan legislatif bulan kemarin. Ada yang perolehan suaranya bersifat mudzakkar, dia bisa bersifat muannats. Ada suara yang sifatnya muannats justru mampu bersifat mudzakkar. Cak Nun memancing jama’ah agar tetap ikut mengamati dan memperhatikan situasi politik Indonesia meskipun jama’ah diawal tadi sudah menyatakan bahwa politik Indonesia hukumnya adalah mubah.
Sifat maskulin dan feminim ini juga diperlukan dalam seni tilawah Al Qur’an dan Adzan. Seorang qaari’ atau muadzin harus tepat menentukan tinggi rendahnya nada dan suara yang digunakan. Hal ini diperlukan agar suara yang dilantunkan terasa indah untuk diperdengarkan.
Sebelum meminta Mas Sabrang untuk memulai pembahasan yang lebih detail, Cak Nun merefresh jama’ah dengan guyonan-guyonan segar yang tetap memiliki hikmah untuk dipetik.
Di Maiyah kita mencari kesejatian dan keabadian dengan melewati sebuah jalan yang sudah pasti banyak yang tidak abadi dan tidak sejati, justru karena “laa ilaaha” kita sampai kepada “illallah”. Jangan sampai kita setiap hari kita selalu mengucapkan “illallah” tetapi tidak mengetahui “laa ilaaha” nya.
“Sekarang ini yang paling penting bagi anda dalam bersikap kepada Indonesia adalah anda harus mengetahui yang ‘tidak’ sebelum anda mengetahui yang ‘iya’ Dan jangan lupa bahwa Allah akan memberikan ‘iya’ ketika engkau sudah ikhlas dengan seluruh yang ‘tidak’ itu tadi”, lanjut Cak Nun.
“Kalau engkau sudah ridhlo kepada penderitaanmu, maka engkau diberi kebahagiaan oleh Allah”.
Mas Sabrang (Noe Letto) kemudian mengawali pemaparan Menebus Nusantara dari cara pandang pribadi. Karena diawal Cak Nun sudah mengawali diskusi bahwa malam ini kita mundur 1-2 langkah untuk belajar bertanya, Mas Sabrang kemudian melemparkan beberapa pertanyaan yang mendasar; menebusnya kepada siapa?
Mas Sabrang kemudian melemparkan pertanyaan lagi, apakah pemimpin dan penguasa itu sama? Karena kita sekarang hampir selalu menyamakan pemimpin dengan penguasa tanpa mempertanyakan apakah pemimpin dan penguasa itu sebuah konsep yang sama atau berbeda? Kalau demokrasi ini memang kemudian menghasilkan pemenang, apakah itu tudak melawan konsep musyawarah untuk mufakat yang didalamnya tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah karena yang dicari adalah jalan tengah untuk kemudian bergandengan bersama untuk berjuang bersama. Tetapi yang terjadi dalam demokrasi di Indonesia sekarang adalah siapa yang menang maka dia yang berkuasa, dan yang kalah menjadi fihak yang tidak memiliki hak untuk mengeluarkan aspirasi. Bukankah hal ini melanggar musyawarah untuk mufakat?
Mas Sabrang kemudian memaparkan bahwa dalam sebuah Kerajaan terdapat konsep “Parentah Ageng” yang didalamnya terdepat 4 generasi  (Raja, Pangeran, Permaisuri, Ibu dan nenek sang Raja) yang terlibat didalamnya untuk ikut dalam memutuskan yang kemudian disabdakan okeh Sang Raja. Sehingga, konsep kekuasaan mutlak seorang Raja itu tidak ada. Ternyata Demokrasi yang ada sekarang tidak lebih canggih dari sisten Kerajaan zaman dahulu.
Mas Sabrang kemudian meminta Mas Agung sedikit memberikan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang Nusantara ini.
“Kita kadang-kadang menerima dengan mentah  dari pelajaran yang kita pelajari di sekolah sampai perguruan tinggi, mungkin banyak hal yang harus dipertanyakan ulang terutana yang terkait dengab sejarah”, Mas Agung mengawali pemaparannya.
Mas Agung mencontohkan dari hal yang masih ada kaitannya dengan tema Menebus Nusantara. Trowulan jika dibandingkan dengan Jakarta yang sebagai pusat Ibukota, apakah Jakarta itu masyarakatnya homogen? Kemudian kita melihat Trowulan, apakah Trowulan pernah menjadi pusat Ibukota Majapahit? Hal ini patut kita pertanyakan kembali karena ini menjadi masalah yang mendasar jika kemudian ternyata ditemukan fakta bahwa Trowulan bukanlah Ibukota pusat pemerintahan dan administrasi Majapahit. Sehingga kemudian ada konsekuensi untuk merevisi literatur sejarah yang ada.
Mas Agung melanjutkan pertanyaan kedua, kalau memang kekuasaan Majapahit dikatakan wilayahnya mencapai luas Indonesia saat ini apakah iya hanya membutuhkan kota kecil sebesar Trowulan untuk menjadi pusat pemerintahan dengan wilayah yang tidak seluas Jakarta dan bangunan yang sangat sedikit.
Apabila kemudian kita melihat Mataram, apakah sebuah beteng di Kotagede membuktikan bahwa Kotagede pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram saat itu? Mas Agung terus memberikan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan keadaan geografis Indonesia dan literatur sejarah yang ada di Indonesia.
“Jalan Anyer-Panarukan apakah benar-benar dibangun oleh Deandles dalam waktu 1000 hari?”, lanjut Mas Agung. Kita ternyata kurang peka mempertanyakan literatur sejarah terkait jalan anyer-panarukan ini apakah benar-benar dibangun oleh Deandlea atau memang sudah dibangun sebelumnya oleh manusia Nusantara kemudian diakui oleh Deandles. Karena jika dilihat dngan akal sehat, apakah mungkin saat itu yang dalam keadaan perang Deandles dengan sangat cepat mampu membangun jalan tersebut. Sedangkan kita melihat sekarang, jalur pantura setiap tahun tidak pernah selesai diperbaiki, padahal zaman sekarang bisa dikatakan lebih modern dari zaman penjajahan Belanda saat itu.
Mas Agung kemudian melemparkan pertanyaan-pertanyaan tentang Pabrik Gula. Kalau memang Pabrik Gula itu dibangun untuk kepentingan Belanda tentunya akan dibangun pada wilayah yang lebih dekat dengan pusat pemerintahan Belanda saat itu berada di Batavia. Tetapi pada faktanya Pabrik Gula justru banyak dibangun di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jika kita melihat masyarakat Sunda rata-rata lebih menyukai minuman yang tawar, berbeda dengan masyarakat di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang cenderung menyukai minuman yang manis, jadi sebenarnya Pabrik Gula ini dibangun atas kepentingan Belanda atau kepentingan masyarakat Nusantara saat itu. Jadi, Pabrik Gula ini benar-benar Belanda yang membikin atau hanya diakui oleh Belanda bahwa mereka yang membikin?
Ada sebuah mesin didalam Pabrik Gula yang beratnya mencapai 100 Ton yang tidak bisa dirangkai secara terpisah. Apakah logis benda itu dibangun di Belanda kemudian diangkut kesini, padahal jembatan yang paling modern di Indonesia saat ini saja hanya mampu menahan beban maksimal 60 Ton, belum lagi jika kita mempertanyakan infrastruktur jalan raya saat itu apakah logis benda seberat 100 Ton dibawa dari Belanda ke Indonesia. Jika kemudian kita mempercayai bahwa benda itu dibikin oleh Belanda di Indonesia, dimana mereka membangun benda tersebut? Apakah benar masyarakat Belanda saat itu adalah masyarakat yang terampil pandai besi sehingga mampu merancang sebuah Pabrik Gula?
Mas Agung kemudian melemparkan lagi pertanyaan yang berkaitan dengan sejarah Kereta Api di Indonesia. “Kalau misalkan rel kereta api dibikin oleh Belanda dibawa dari negaranya dan dibawa ke Indonesia, apakah jika kita mengumpulkan seluruh rel kereta peninggalan Belanda itu cukup ditampung di Amsterdam?”, ungkap Mas Agung.
Secara akal sehat, rasanya tidak mungkin Belanda yang membangun Kereta Api di Indonesia. Karena penduduk Belanda sendiri ternyata bukanlah masyarakat pandai besi, belum lagi kekayaan sumber daya alam Belanda yang tidak memiliki tambang besi sebesar yang dimiliki Indonesia, apakah masuk akal bahwa infrastruktur Kereta Api itu dibangun oleh Belanda? Ini baru tentang rel Kereta Api, belum sampai Lokomotif Kereta Api. Kalau memang dibangun oleh Belanda, kenapa pabrik tempat untuk merakit Kereta Api itu dibangun di Madiun? Apakah masuk akal, ketika zaman peperangan, Belanda dengan mudahnya mengangkut barang seberat itu dari Batavia dibawa ke Madiun untuk membangun Kereta Api. Atau jangan-jangan itu adalah karya manusia Nusantara yang kemudian hanya diakui oleh Belanda.
“Jangan-jangan bangsa kita dulu nggak kalah secara teknologi, cuman masalahnya adalah kita kalah klaim”, Mas Sabrang merespon pertanyaan-pertanyaan yang dipaparkan oleh Mas Agung. Mas Sabrang kemudian memberikan kesempatan kepada beberapa jama’ah untuk ikut merespon pemaparan Mas Agung.
Mas Sabrang kemudian merespon pertanyaan tentang Partikel Tuhan. “Partikel Tuhan” (Hegzbozon) sebenarnya adalah kalimat yang dibuat oleh media agar gempar.
“Gampangnya gini aja, partikel tuhan itu dasarnya adalah seperti proton, elektron, dsb. Tapi yang tidak tahu adalah bagaimana partikel tersebut kemudian memiliki massa”, lanjut Mas Sabrang.
Mas Sabrang mencontohkan dengan tongkat kayu yang dimasukkan kedalam air kemudian dengan tongkat tersebut, kita dapat menggerakkan air. Ketika kita menggerakkan tongkat, terjadi sebuah interaksi antara tongkat dengan air yang kemudian menghasilkan gelombang air sesuai dengan kecepatan tongkat yang kita gerakkan. Esensinya, Hegzbozon itu sama dengan teori tersebut. Intinya, Mas Sabrang mengingatkan bahwa partikel tuhan adalah istilah yang diciptakan oleh media agar menjadi bahan pembicaraan saja.
Ada sebuah pengetahuan yang sedang ramai di dunia fisika saat ini. Ada sebuah percobaan  Quantum, percobaan tentang Cahaya. Cahaya itu memiliki 2 sifat; gelombang dan partikel. Sifat Cahaya ini ketika dia bersifat gelombang maka dia berbeda dengan ketika dia bersifat partikel. Pada sebuah percobaan cahaya yang ditembakkan ke sebuah layar yang terdapat dua lubang, di belakang layar tersebut terdapat sebuah tembok yang menjadi titik akhir tembakan cahaya. Percobaan pertama dilakukan dengan menembakkan cahaya dari sebuah senter ke arah layar tersebut, ternyata hasilnya adalah citra garis-garis di tembok, hal ini menunjukkan bahwa cahaya bersifat gelombang. Pada percobaan yang kedua, dipasanglah sebuah detektor di dekat layar, ternyata hasil citra cahaya tersebut di tembok adalah gelap-terang, hal ini menunjukkan bahwa cahaya bersifat partikel. Ketika cahaya bersifat partikel, maka area yang semakin jauh dari pusat cahaya, maka area tersebut menjadi lebih gelap. Sedangkan ketika bersifat gelombang, hasil citra yang dihasilkan adalah garis-garis yang digambarkan dengan keadaan gelap-terang. Jadi kesempulannya adalah, semua hanya potensial kecuali kesadaran melihat. Ketika ada kesadaran melihat, maka benda yang dilihat menjadi nyata.
Kalau dunia ini ada wujudnya, ada pohon, batu dan sebagainya, Pertanyaannya adalah kesadaran mana yang melihat? Teori yang mampu menjawab pertanyaan ini hanya teori Agama, jawabannya adalah kesadaran Tuhan. Bahwa ada Tuhan yang mengawasi ini semua. Kesimpulan ini cukup membuat gusar para fisikawan. Karena ternyata fisika tidak pernah bisa lepas dari Agama. Mas Sabrang menyarankan apabila ingin lebih dalam memahami tentang partikel tuhan, agar mencari di internet dengan kata kunci “bail in equality”, percoban fisikanya namanya “delayed quantum eraser”.
Menjawab pertanyaan salah satu jama’ah yang bertanya tentang bahasa, Mas Sabrang menjelaskan, menurut Pak Manu yang merupakan salah satu dari 5 orang di dunia yang saat ini mampu membaca huruf Sansakerta, bahasa Sansakerta itu lahir di sungai Rin di Jerman sekitar 6000 tahun yang lalu berkembang luas di India. Tetapi kita punya bahasa yang lebih tua, yaitu Kawi. Lahirnya ribuan bahasa inilah yang disebabkan oleh akulturasi persambungan antara Kawi dan Sansakerta, jika ingin mempelajari lebih dalam lagi tentang bahasa maka bacalah kitab Prawedha.
Mas Ibrahim turut merespon pertanyaan tentang teori Partikel Tuhan, menurut Mas Ibrahim rumusnya adalah “kun fayakun”.
Cak Nun juga ikut melengkapi respon tentang partikel Tuhan. Dalam dunia tasawuf dikenal sebuah kemesraan Tuhan dengan manusia bahwa Tuhan menyatakan “Aku ini berlaku berdasarkan sangkaan hambaku kepadaku”. Dalam term filsafat Yunani kuno ada sebuah pernyataan “aku sadar maka aku ada”.  Pada tingkatan yang lebih tinggi lagi adalah tidak yang lain selain Allah. Bahwa Allah kemudian mengatakan “kun” dengan perintahNya, kemudian Dia menyebarkan cintaNya dengan “yakuun”, kemudian Allah bermesraan dengan “yakuun” itu seperti partikel dan gelombang dalam dunia fisika. Terkadang partikel, dan terkadang gelombang. Ketika manusia menyadari bahwa tidak ada selain Allah dalam kehidupan di dunia ini, maka semuanya akan terasa kecil.
Mas Agung kemudian merespon pertanyaan tentang Atlantis. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Mas Agung dkk sejak 1988 adalah ada sebuah kecurigaan tentang adanya sebuah peradaban yang tersimpan dan bersembunyi di Indonesia bahkan hingga saat ini. Kecurigaan yang pertama adalah tentang bangunan Taman Sari di Yogyakarta. Salah satu kepercayaan raja-raja jawa zaman dahulu adalah persinggungan dengan Ratu Kidul, atau yang biasa disebut dengan Nyai Roro Kidul. Keberadaan terowongan di Taman Sari menguatkan sebuah fakta bahwa para raja-raja melakukan komunikasi dengan ratu kidul ini dengan menggunakan terowongan di Taman Sari ini.
Ada suatu cerita bahwa aktivitas gunung-gunung berapi dikendalikan dari pantai selatan. Ketika Merapi erupsi tahun 2010 yang lalu, beberapa teman-teman Mas Agung mengumpulkan sampel pasir yang ternyata kadar garamnya cukup tinggi. Diketahui kemudian bahwa beberapa bulan sebelum Merapi erupsi, ternyata beberapa pantai di selatan Yogyakarta terjadi abrasi.
Tahun lalu Mas Agung melakukan eksperimen dengan menyebar sekitar 600 batu di Pantai Pandan Simo dan Pantai Samas. Batu yang disebar kedua pantai tersebut kemudian diberi tanda yang berbeda dan ditanam di dalam tanah. Ketika terjadi abrasi di dua pantai tersebut, kemudian batu tersebut hilang. Anehnya, batu-batu tersebut muncul sebagai batu vulkanik yang keluar dari gunung kelud saat meletus beberapa bulan yang lalu. Saat ini sedang akan dilakukan eksperimen kedua yaitu dengan mengumpulkan benda-benda material yang tidak alami seperti tutup botol,  botol minuman, pita, spanduk dsb kemudian ditanam di bibir pantai selatan, untuk kemudian membuktikan cerita bahwa gunung-gunung berapi dikendalikan dari sebuah peradaban di pantai selatan. Karena saat ini, di beberapa pantai selatan sudah terjadi abrasi, pada saat yang bersamaan beberapa gunung berapi berstatus waspada, siaga dsb.
Cak Nun menambah pemaparan Mas Agung, berdasarkan persinggungan Cak Nun dengan Mas Agung bahwa ada 18 titik di pulau jawa yang menyimpan lipatan-lipatan yang menyimpan peradaban-peradaban yang tersembunyi, namun hal ini masih bersifat asumsi, belum sampai pada tahap kesimpulan. Cak Nun mengibaratkan seperti sebuah software, bahwa sebuah software yang terinstall dalam sebuah komputer, tidak semua file bisa dibuka atau dibaca oleh satu software. Software microsoft word tidak akan mampu membaca file ekstensi *cdr misalnya, apalagi sistem operasi berbasis DOS, jelas tidak akan mampu membaca file tersebut, jangankan *cdr, bahkan file ekstensi *jpeg saja tidak bisa dibuka di sistem operasi berbasis DOS.
Mas Sabrang kemudian melengkapi penjelasan tentang konsep kesadaran tuhan. Kesadaran pada manusia saat ini adalah tingkat kesadaran yang memang hanya difahami oleh manusia. Misalnya adalah tetes air hujan yang pasti akan kembali ke laut dengan berbagai cara yang berbeda, dengan kesadaran tetes hujan ada yang mengalir di sungai, ada yang mengalir di got, ada yang terserap oleh tanah dan sebagainya hingga akhirnya sampai ke laut.
Begitu juga batu, ia memiliki kesadaran batu yaitu kesadaran ada. Ayam, pohon dan makhluk hidup yang lain juga memiliki kesadaran, yaitu kesadaran tumbuh dan bertahan hidup, sehingga tanggung jawab yang dimiliki oleh mereka hanyalah tumbuh dan bertahan hidup.
Manusia memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi lagi, yaitu kesadaran memahami dirinya sendiri. Ketika manusia bercermin, ia memiliki kesadaran bahwa yang ia lihat adalah dirinya sendiri, bukan makhluk lain. Manusia sudah berada pada tingkatan kesadaran memilih, sehingga kemudian freewill-nya diletakkan secara utuh dalam diri manusia. Makanya orang jawa ketika memperlakukan semua benda itu dengan memanusiakan, karena dia tahu bahwa benda tersebut dalam proses perjalanan.
Cak Nun memungkasi diskusi puncak Kenduri Cinta kali ini dengan memberi pesan kepada jama’ah agar pengetahuan yang diterima pada malam ini agar diproses untuk diteliti lebih lanjut agar tidak hanya menjadi jamur di akal dan fikiran. Dan apabila ternyata kemudian memilih untuk tidak memproses pengetahuan tersebut lebih lanjut lagi, maka sebaiknya agar segera dibuang dari kepala agar tidak menjadi jamur. Setiap manusia itu melakukan penelitian, baik sengaja maupun tidak sengaja.
Cak Nun menjelaskan bahwa Al Qur’an juga memiliki kesadaran-kesadaran yang berbeda satu sama lain, ada ayat yeng memiliki kesadaran diskusi, ada juga ayat yang memiliki kesadaran perintah, ada ayat yang memiliki kesadaran merayu, kesadaran menggoda, kesadaran kasih sayang dan sebagainya.
Cak Nun kemudian juga mengingatkan kepada jama’ah tentang bagaimana menempatkan sesuatu dalam diri manusia, ada yang harus ditempatkan di hati dan fikiran, ada yang harus dipegang di tangan kanan, ada yang cukup diletakkan di tangan kiri, ada juga yang hanya pantas ditempatkan di dalam dompet yang hanya dilihat sesekali saja.
Kenduri Cinta Mei 2014 dipuncaki dengan menyanyikan lagu “Padamu Negeri” yang dipimpin oleh Cak Nun dan ditutup dengan do’a bersama yang dipimpin oleh Mas Rusdi. [Red KC/Fahmi Agustian]


Untuk selengkapnya baca disini 
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments
Terima Kasih Sudah Berkomentar